Jumat, 09 Januari 2009

PHK Besar-Besaran


Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran terhadap karyawan yang bekerja pada beberapa perusahaan berskala besar di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri mulai terjadi di awal tahun 2009.

"Puncak PHK terhadap ribuan karyawan diperkirakan pada Maret 2009," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bintan, Makhfur Z di Tanjungpinang, Kamis.

PHK terhadap karyawan di Bintan terjadi sejak krisis keuangan global yang melanda Amerika dan beberapa negara di Eropa. Krisis tersebut mempengaruhi pendapatan sebagian besar perusahaan yang berlokasi di Lobam dan Kijang, Kabupaten Bintan.

Maskhfir mengatakan, jumlah karyawan tetap dan kontrak di Lobam sebanyak 10.802 orang, sedangkan di Kijang sebanyak 2.700 orang.

"Di Lobam terdapat 22 perusahaan, sementara di Kijang ada tiga perusahaan," katanya.

Sedikitnya empat perusahaan besar yang bergerak dibidang elektronik mengalami kerugian karena barang yang diproduksi tidak laku dijual di pasaran internasional. Perusahaan itu adalah PT Royal, PT Sumiko, PT Upec dan PT Korindo.

"Empat perusahaan tersebut masih beroperasi meski mengurangi produksi," katanya.

Biasanya banyak pengusaha dari beberapa negara memesan produk elektronik yang diproduksi perusahaan elektronik di Lobam dan Kijang. Namun hingga sekarang belum ada satu pun perusahaan asing yang membeli produk elektronik tersebut.

"Tidak ada pesanan terhadap barang yang diproduksi perusahaan tersebut sehingga perusahaan melakukan efesiensi karyawan untuk mengurangi biaya pengeluaran," ujarnya.

Menurut Makhfur, sebanyak 923 karyawan kontrak di Kijang tidak perpanjang masa kerjanya. Hal yang juga terjadi terhadap 636 karyawan di Lobam.

"Sekitar 67,5 persen karyawan Kijang menetap, tidak pulang kampung setelah di-PHK. Sebanyak 32,5 persen karyawan di Lobam juga menetap di Lobam," katanya.

Ratusan karyawan di Lobam akan menyusul rekan-rekannya yang di PHK. Mereka berstatus setengah pengangguran karena bekerja tidak sampai 40 jam selama sepekan.

Mereka mengeluh karena hanya menerima gaji pokok sebesar upah minimum Kabupaten Bintan Rp895.000. Biasanya mereka mendapatkan upah lembur.

Semenjak terjadinya krisis perekonomian global, perusahaan tidak pernah memberi lembur kepada karyawan.

"Sekitar 200 lebih karyawan PT Sumiko dirumahkan. Itu gelaja terjadinya PHK," tutur Makhfur.

Makhfur mengatakan, perusahaan harus membayar pesangon kepada karyawan yang di-PHK.

"Kewajiban perusahaan terhadap karyawan yang di-PHk harus dipenuhi," katanya.
Disnaker akan mengawasi aset-aset perusahaan hingga perusahaan tersebut menunaikan kewajibannya kepada karyawan yang di-PHK.

"Aset-aset perusahaan tidak boleh dijual atau dibawa pergi sebelum kewajibannya terpenuhi," katanya.

ANTARA ZIONISME DAN YAHUDI Oleh: HARUN YAHYA

Musim panas tahun 1982 menjadi saksi atas kebiadaban luar biasa yang
menyebabkan seluruh dunia berteriak dan mengutuknya dengan keras. Tentara Isrel
memasuki wilayah Lebanon dalam suatu serbuan mendadak, dan bergerak maju sambil
menghancurkan sasaran apa saja yang nampak di hadapan mereka. Pasukan Israel ini mengepung
kamp-kamp pengungsi yang dihuni warga Palestina yang telah melarikan diri akibat
pengusiran dan pendudukan oleh Israel beberapa tahun sebelumnya. Selama dua hari,
tentara Israel ini mengerahkan milisi Kristen Lebanon untuk membantai penduduk
sipil tak berdosa tersebut. Dalam beberapa hari saja, ribuan nyawa tak berdosa telah
terbantai.

Terorisme biadab bangsa Israel ini telah membuat marah seluruh masyarakat
dunia. Tapi, yang menarik adalah sejumlah kecaman tersebut justru datang dari
kalangan Yahudi, bahkan Yahudi Israel sendiri. Profesor Benjamin Cohen dari Tel Aviv
University menulis sebuah pernyataan pada tanggal 6 Juni 1982:
Saya menulis kepada anda sambil mendengarkan radio transistor yang baru saja
mengumumkan bahwa ‘kita’ sedang dalam proses ‘pencapaian tujuan-tujuan kita’
di Lebanon: yakni untuk menciptakan ‘kedamaian’ bagi penduduk Galilee.

Kebohongan ini sungguh membuat saya marah. Sudah jelas bahwa ini adalah
peperangan biadab, lebih kejam dari yang pernah ada sebelumnya, tidak ada kaitannya
dengan upaya yang sedang dilakukan di London atau keamanan di Galilee…Yahudi,
keturunan Ibrahim…. Bangsa Yahudi, mereka sendiri menjadi korban kekejaman,
bagaimana mereka dapat menjadi sedemikian kejam pula? … Keberhasilan terbesar bagi Zionisme
adalah de-Yahudi-isasi bangsa Yahudi. ("Professor Leibowitz calls Israeli
politics in Lebanon Judeo-Nazi" Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)

Benjamin Cohen bukanlah satu-satunya warga Israel yang menentang
pendudukan Israel atas Lebanon. Banyak kalangan intelektual Yahudi yang tinggal di Israel yang
mengutuk kebiadaban yang dilakukan oleh negeri mereka sendiri.

Pensikapan ini tidak hanya tertuju pada pendudukan Israel atas Lebanon.
Kedzaliman Israel atas bangsa Palestina, keteguhan dalam menjalankan kebijakan
penjajahan, dan hubungannya dengan lembaga-lembaga semi-fasis di bekas rejim rasis
Apartheid di Afrika Selatan telah dikritik oleh banyak tokoh intelektual terkemuka di
Israel selama bertahun-tahun. Kritik dari kalangan Yahudi sendiri ini tidak
terbatas hanya pada berbagai kebijakan Israel, tetapi juga diarahkan pada Zionisme,
ideologi resmi negara Israel.

Ini menyatakan apa yang sesungguhnya terjadi: kebijakan pendudukan Israel
atas Palestina dan terorisme negara yang mereka lakukan sejak tahun 1967 hingga
sekarang berpangkal dari ideologi Zionisme, dan banyak Yahudi dari seluruh dunia yang
menentangnya.

Oleh karena itu, bagi umat Islam, yang hendaknya dipermasalahkan adalah
bukan agama Yahudi atau bangsa Yahudi, tetapi Zionisme. Sebagaimana gerakan anti-Nazi
tidak sepatutnya membenci keseluruhan masyarakat Jerman, maka seseorang yang
menentang Zionisme tidak sepatutnya menyalahkan semua orang Yahudi.

Asal Mula Gagasan Rasis Zionisme Setelah orang-orang Yahudi terusir dari Yerusalem pada tahun 70 M, mereka
mulai tersebar di berbagai belahan dunia. Selama masa ‘diaspora’ ini, yang berakhir
hingga abad ke-19, mayoritas masyarakat Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah
kelompok masyarakat yang didasarkan atas kesamaan agama mereka.

Sepanjang perjalanan waktu, sebagian besar orang Yahudi membaur dengan budaya setempat, di
negara di mana mereka tinggal. Bahasa Hebrew hanya tertinggal sebagai bahasa suci yang
digunakan dalam berdoa, sembahyang dan kitab-kitab agama mereka. Masyarakat Yahudi
di Jerman mulai berbicara dalam bahasa Jerman, yang di Inggris berbicara dengan bahasa
Inggris. Ketika sejumlah larangan dalam hal kemasyarakatan yang berlaku
bagi kaum Yahudi di negara-negara Eropa dihapuskan di abad ke-19, melalui emansipasi,
masyarakat Yahudi mulai berasimilasi dengan kelompok masyarakat di mana
mereka tinggal. Mayoritas orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah
‘kelompok agamis’ dan bukan sebagai sebuah ‘ras’ atau ‘bangsa’. Mereka menganggap
diri mereka sebagai masyarakat atau orang ‘Jerman Yahudi’, ‘Inggris Yahudi,
atau ‘Amerika Yahudi’.

Namun, sebagaimana kita pahami, rasisme bangkit di abad ke-19. Gagasan rasis,
terutama akibat pengaruh teori evolusi Darwin, tumbuh sangat subur dan
mendapatkan banyak pendukung di kalangan masyarakat Barat. Zionisme muncul akibat
pengaruh kuat badai rasisme yang melanda sejumlah kalangan masyarakat Yahudi.

Kalangan Yahudi yang menyebarluaskan gagasan Zionisme adalah mereka yang
memiliki keyakinan agama sangat lemah. Mereka melihat “Yahudi” sebagai nama sebuah
ras, dan bukan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu
keyakinan agama. Mereka mengemukakan bahwa Yahudi adalah ras tersendiri yang
terpisah dari bangsa-bangsa Eropa, sehingga mustahil bagi mereka untuk hidup bersama,
dan oleh karenanya, mereka perlu mendirikan tanah air mereka sendiri. Orang-orang
ini tidak mendasarkan diri pada pemikiran agama ketika memutuskan wilayah mana yang
akan digunakan untuk mendirikan negara tersebut. Theodor Herzl, bapak pendiri
Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini dikenal dengan nama ‘Uganda
Plan’.

Kaum Zionis kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada Palestina. Alasannya
adalah Palestina dianggap sebagai ‘tanah air bersejarah bangsa Yahudi’, dan bukan
karena nilai relijius wilayah tersebut bagi mereka.

Para pengikut Zionis berusaha keras untuk menjadikan orang-orang Yahudi
lain mau menerima gagasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama
mereka ini.

Organisasi Yahudi Dunia, yang didirikan untuk melakukan propaganda masal,
melakukan kegiatannya di negara-negara di mana terdapat masyarakat Yahudi. Mereka mulai
menyebarkan gagasan bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat hidup secara
damai dengan bangsa-bangsa lain dan bahwa mereka adalah suatu ‘ras’ tersendiri; dan dengan
alasan ini mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Sejumlah besar
masyarakat Yahudi saat itu mengabaikan seruan ini.

Dengan demikian, Zionisme telah memasuki ajang politik dunia sebagai
sebuah ideologi rasis yang meyakini bahwa masyarakat Yahudi tidak seharusnya hidup bersama
dengan bangsa-bangsa lain. Di satu sisi, gagasan keliru ini memunculkan beragam
masalah serius dan tekanan terhadap masyarakat Yahudi yang hidupnya tersebar di
seluruh dunia.

Di sisi lain, bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah, hal ini
memunculkan kebijakan penjajahan dan pencaplokan wilayah oleh Israel, pertumpahan darah,
kematian, kemiskinan dan teror.

Banyak kalangan Yahudi saat ini yang mengecam ideologi Zionisme. Rabbi
Hirsch, salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka, mengatakan:
‘Zionisme berkeinginan untuk mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai sebuah
bangsa .... ini adalah sesuatu yang menyimpang (dari ajaran agama)’.
(Washington Post, 3 Oktober 1978)

Roger Garaudy menulis:
Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis dan
kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan)
nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir ini, yang
mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya melawan nasionalisme lain,
adalah cara berpikir bunuh diri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan
tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika Israel telah mengalami “de-Zionisasi”
dan kembali pada agama Ibrahim, yang merupakan warisan spiritual,
persaudaraan dan milik bersama dari tiga agama wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger
Garaudy, "Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger
Garaudy",Samizdat, Juni 1996)

Dengan alasan ini, kita hendaknya membedakan Yahudi dengan Zionisme. Tidak
setiap orang Yahudi di dunia ini adalah seorang Zionis. Kaum Zionis tulen adalah
minoritas di dunia Yahudi. Selain itu, terdapat sejumlah besar orang Yahudi yang
menentang tindakan kriminal Zionisme yang melanggar norma kemanusiaan. Mereka
menginginkan Israel menarik diri secara serentak dari semua wilayah yang didudukinya, dan
mengatakan bahwa Israel harus menjadi sebuah negara bebas di mana semua
ras dan masyarakat dapat hidup bersama dan mendapatkan perlakuan yang sama, dan bukan
sebagai ‘negara Yahudi’ rasis.

Kaum Muslimin telah bersikap benar dalam menentang Israel dan Zionisme.
Tapi, mereka juga harus memahami dan ingat bahwa permasalahan utama bukanlah terletak
pada orang Yahudi, tapi pada Zionisme.

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME Zionisme
dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl
(1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun
rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika
tidak ada sama sekali. Mereka melihat "Keyahudian" sebagai sebuah nama ras, bukan
sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi
sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama,
dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri.
Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu
seharusnya.

Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan
ini lalu dikenal sebagai "Uganda Plan." Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina.
Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai "tanah air bersejarah bagi orang-orang
Yahudi", dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk
mereka.

Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi
lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru
melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk
Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan
bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah "ras" yang terpisah. Oleh karena itu,
mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan
himbauan ini.

Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: "Zionisme (dulu) adalah sebuah
pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi".15
Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi
Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, "Zionisme ingin menamai
orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah
penyimpangan. "16 Selebihnya silakan dibaca di link:
http://www.tragedipalestina.com/yahudilawant errorisme. html

15- Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19
16- Washington Post, Oktober 3, 1978

Semoga kita dapat melihat permasalahan Timur Tengah dengan hati dan
pikiran yang
sejernih mungkin,

íóÇ ÃóíõøåóÇ ÇáóøÐöíäó ÂãóäõæÇ ßõæäõæÇ
ÞóæóøÇãöíäó áöáóøåö ÔõåóÏóÇÁó ÈöÇáúÞöÓúØö
æóáÇ íóÌúÑöãóäóøßõãú ÔóäóÂäõ Þóæúãò Úóáóì
ÃóáÇ ÊóÚúÏöáõæÇ ÇÚúÏöáõæÇ åõæó ÃóÞúÑóÈõ
áöáÊóøÞúæóì æóÇÊóøÞõæÇ Çááóøåó Åöäóø Çááóøåó
ÎóÈöíÑñ ÈöãóÇ ÊóÚúãóáõæäó yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak
adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dan tak lupa doa selalu untuk Saudara/Saudari kita di Palestina:

ÑóÈóøäóÇ áÇ ÊóÌúÚóáúäóÇ ÝöÊúäóÉð áöáúÞóæúãö
ÇáÙóøÇáöãöíäó æóäóÌöøäóÇ ÈöÑóÍúãóÊößó ãöäó
ÇáúÞóæúãö ÇáúßóÇÝöÑöíäó yang artinya:
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum
yang lalim,
dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang
ingkar." (QS. Yuunus, ayat 85-86)

amiin

KARYAKU

Cempaka Putih, Kitab Kamasutra Melayu Riau Lingga
iustrasi
Rabu, 31 Desember 2008 | 15:21 WIB

TANJUNG PINANG, RABU — Sekitar 350 naskah kusam tertata rapi di lemari Kantor Yayasan Kebudayaan Indrasakti di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.

"Itu naskah yang dapat kami pertahankan, selebihnya berada di Malaysia dan Singapura," kata Raja Malik Hafrizal, 36 tahun, ahli waris Melayu Lingga Riau, di kantornya, Senin, bertepatan dengan 1 Muharram 1430 H.

Beraksara Arab-Melayu, naskah-naskah peninggalan zaman Belanda itu nyaris tidak diperhatikan pengunjung lokal, meski menyimpan ribuan kisah kejayaan Kerajaan Melayu Lingga Riau, termasuk tentang teknik hubungan intim yang islami.

"Kamasutra" Pulau Penyengat, dalam koleksi perpustakaan naskah kuno Indrasakti, belum pernah dipublikasikan.

Sekitar sepuluh naskah kuno tentang kehidupan seks warga dan keluarga raja masih tersimpan di Indrasakti. Pengarangnya antara lain, Raja Abdullah yang pada zamannya akrab dipanggil Abu Muhammad Adnan.

Abu Muhammad Adnan mulai menulis tentang hubungan biologis masyarakat Melayu di Pulau Penyengat pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.

Dia adalah putra dari Raja Ali Haji, penulis syair Gurindam 12 yang tersohor di dunia, Bapak Bahasa Indonesia yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Salah satu judul naskah kuno karangan Abu Muhammad Adnan adalah "Cempaka Putih."

Kitab itu mengenai hubungan seks yang dihalalkan Islam, dilengkapi dengan foto lelaki dan perempuan yang sedang melakukan hubungan intim.

Karya Abu Muhammad tertata rapi dalam 150 halaman, baru-baru ini diselamatkan Raja Malik dari serangan rayap. Kendati sudah kusam, kitab dengan aksara Arab-Melayu itu masih utuh.

Bagi peneliti kebudayaan dan kolektor naskah tua, "Cempaka Putih" adalah permata yang memiliki nilai kebudayaan yang tinggi.

"Ceritanya erotis, tapi mendidik," kata Raja Malik yang juga Ketua Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Kepri-Pulau Penyengat.

Selain menampilkan beberapa teknik/gaya hubungan seks, "Cempaka Putih" juga menuliskan sebuah doa sebelum berhubungan intim.

"Seperti Kamasutra India. Raja Abdullah menceritakan kisah kehidupan seksual masyarakat Melayu pada zamannya. `Kamasutra Melayu`, berdasar ajaran Islam," ujarnya.

"Cempaka Putih" memberi gambaran betapa pentingnya hubungan seks dalam sebuah keluarga yang harmonis.

"Hubungan seks yang tidak meninggalkan ajaran Islam. Enak tapi tidak berdosa," ujar Raja Malik tersenyum.

"Nyaris hancur, tapi tulisannya masih utuh sehingga dapat dibaca," katanya.

Setelah "Cempaka Putih", muncul beberapa naskah "kamasutra" lain dengan penulis yang berbeda di zaman itu.

"Naskah kuno Melayu dengan gaya Kamasutra India yang berhasil kami simpan sekitar sepuluh," ujarnya.

Perempuan

Istri Abu Muhammad Adnan, Khatijah Terung, juga seorang penulis. Khatijah tidak ingin melewati kesempatan untuk menulis naskah tandingan yang lebih menonjolkan perempuan dalam kehidupan seksual.

Naskah Khatijah Terung berjudul "Kumpulan Gunawan", terdiri atas 197 halaman, dilengkapi dengan tulisan, lukisan, dan foto yang menggambarkan hubungan seksual antara suami dan istri.

Karyanya itu juga dikenal dengan sebutan Gerak Tujuh yang identik dengan gaya perempuan dalam melakukan hubungan seksual dengan suaminya.

"Naskah `Kumpulan Gunawan`masih utuh, tidak rusak," kata Raja Malik.

Raja Malik mengatakan, naskah-naskah "Kamasutra" Melayu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

"Naskah itu ditulis dalam bentuk Arab-Melayu. Kami akan alihaksarakan ke dalam bentuk bahasa Indonesia tanpa mengurangi kekhasan Melayu," katanya.

Buru naskah

"Para kolektor dari Malaysia memburu naskah kuno Melayu yang berada di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang dan Kabupaten Lingga," ujar Raja Malik.

Sekitar 50 naskah kuno yang bermuatan sejarah, sastra, dan agama telah dijual warga Kepri kepada kolektor dari Malaysia. Sebagian kecil naskah kuno Melayu Kepri kini berada di Lembaga Kebudayaan Melayu Singapura.

"Kebanyakan kolektor Malaysia yang berhasil membeli naskah kuno dari warga masyarakat Kepri yang mendapatkannya sebagai warisan," ujarnya.

Raja Malik mengatakan, kolektor-kolektor dari Malaysia dan Singapura berupaya merayu pemegang naskah kuno. Kolektor memiliki penawaran tersendiri terhadap naskah-naskah kuno yang dijual warga.

"Saya juga sering dibujuk kolektor, baik dari Malaysia, Singapura, maupun dari beberapa negara lain," katanya.

Harga naskah sejarah kuno lebih tinggi dibanding sastra dan agama.

"Naskah-naskah kuno yang berhasil kami selamatkan sekitar 317," kata Raja Malik yang pernah mendapat Penghargaan Penyelamatan Aset Budaya Melayu Kepri dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Menurutnya, hingga sekarang, aset-aset budaya Kepri belum diinventarisasi sehingga tidak diketahui berapa banyak yang masih tersisa. Seharusnya, pemerintah menyediakan museum untuk menyelamatkan yang masih tersisa atau disimpan oleh warga.

"Pemerintah pernah membeli naskah kuno yang disimpan oleh pewarisnya. Namun, tidak sebanding dengan yang masih berada di tangan warga," katanya.

Perhatian pemerintah dinilainya hanya terfokus pada pemeliharaan kuburan raja-raja, benteng, dan pemeliharaan masjid Pulau Penyengat.

"Seharusnya apa pun jenis aset yang menunjukkan identitas kekayaan budaya Melayu diselamatkan," katanya.

Pulau Penyengat, 240 hektar, hingga dewasa ini dikenal sebagai pulau sakral, bersih dari kegiatan-kegiatan yang melanggar ajaran agama.

Masyarakat pulau itu mempertahankan kegotongroyongan dan budaya Melayu yang bercorak Islam hingga sekarang.

Tidak ada pedagang yang menjual minuman keras. Tidak ada lokalisasi pelacuran dan perjudian.

"Jangan coba-coba melakukan kegiatan tidak baik di Pulau Penyengat," kata Iwan Kurniawan, pengacara yang pada hampir setiap perayaan keagamaan Islam mengunjungi Penyengat, pulau di seberang ibu kota Tanjung Pinang.


Sabtu, 27 Desember 2008

TRISULA KEPEMIMPINAN

Laporan
utama Time pada 9 Juli ditulis Richard Stengel, penulis biografi Nelson
Mandela, Long Road to Freedom. Ulasan Stengel dalam rangka ulang tahun
Rolihlahla ke-90, 19 Juli 2008.

Seperti biasa, di sampul Time Mandela berpose dengan kemeja
batik—ia promotor batik global tanpa honor. Untung dia bukan orang
Malaysia.

Pak Harto, atas nama RI, rutin membantu dana perjuangan Mandela dan
partainya, ANC. Ini contoh praktik politik luar negeri jempolan!

Bulu kuduk bergidik membaca ulasan Stengel tentang Delapan Prinsip
Kepemimpinan Mandela. Intinya, memimpin bukan berwacana karena ”talk is
cheap”.

Rolihlahla (anak bandel) tak pandai berpidato, lebih suka memberi
suri teladan, dan tak bangga dengan jam terbang dibui 27 tahun. Ia
pengacara berbakat, gerilyawan pemberani, negarawan sejati, dan—di atas
segala-galanya—politikus ulung.

Stengel menempatkan watak pemberani dan tak kenal ragu sebagai
prinsip pertama. Pelajaran bagi kita, bangsa yang sedang serba susah
ini tak boleh lagi dipimpin an indecisive coward mulai tahun 2009.

Prinsip kedua, memimpin dari depan tanpa meninggalkan pendukung.
Stengel mengibaratkan Mandela bukan tipe ”pengunyah permen karet” yang
dengan cepat melepeh sehabis menikmati rasa manis alias jangan habis
manis sepah dibuang.

Prinsip ketiga, pemimpin menggembala dari belakang. Ya, mirip
dengan lagu Norma Sanger, ”Si Penggembala Sapi”, yang dari pagi sampai
petang kerja keras sampai menutup pintu kandang.

Kelas ”penggembala sapi” ada pada diri Bung Karno dan Pak Harto.
Presiden-presiden setelah itu kewalahan menggembala sapi (eh maaf,
maksudnya bangsa) karena mewabahnya sapi gila, flu burung, dan kaki
gajah.

Sebuah fitur prinsip ketiga ini membujuk orang berbuat sampai yakin
perbuatan itu gagasan dia. Jangan kayak kasus blue energy yang membuat
si pencipta malah bolak-balik sakit.

Prinsip keempat, pelajarilah musuh Anda. Kalau pesawat
maskapai-maskapai kita dilarang terbang ke Eropa, jangan ngambek enggak
berkunjung ke sana.

Larangan itu diberlakukan karena maskapai-maskapai kita
menyepelekan keselamatan. Pelajari cara mereka menerapkan keamanan
penerbangan, baru setelah itu main gertak yang bukan lagi pakai sambal.

Prinsip kelima mirip yang keempat, yakni jangan usir musuh-musuh
Anda. Jika perlu, undang mereka, puji perbuatan mereka, dan setelah
tersanjung ambil keuntungan dari mereka.

Prinsip ini penting sehubungan dengan keluhan investor asing yang
makin malas tanam modal di sini. Mana yang lebih baik: marah atau
sebaliknya, berunding baik-baik?

Peranan MNC (multinational corporation) mustahil diabaikan. Ancaman
nasionalisasi tak produktif dibandingkan ajakan berunding dalam posisi
setara—seperti yang dilakukan Presiden Bolivia Evo Morales.

Prinsip keenam, pemimpin harus tampil menarik dan selalu ingat
kapan harus tersenyum. Namun, hati-hati kalau senyum melulu bisa
dianggap kurang waras.

Senyum, body language, serta ucapan mesti sewajar mungkin. Mata
rakyat kecil amat nyambung dengan hati sehingga mereka bisa membedakan
pemimpin munafik dengan yang apa adanya.

Mandela tak mau memakai seragam gerilyawan seperti pada masa
perjuangan atau jas lengkap beberapa tahun terakhir. Ia memilih tampil
sebagai ”Bapak Bangsa” dengan kemeja batik.

Beda dengan pejabat di sini yang pakai batik karena terpaksa
berhubung dikritik memboroskan listrik pada saat harga bahan bajar
minyak naik melulu. Lihat saja, beberapa bulan lagi mereka ogah pakai
batik lagi.

Prinsip ketujuh, dalam politik tak ada hitam atau putih karena
semuanya abu-abu. Dalam konteks Indonesia tak ada warna politik lain
kecuali merah dan putih—warna Bhinneka Tunggal Ika.

Prinsip kedelapan, mengundurkan diri juga bagian dari kepemimpinan.
Kalau di sini mundur artinya pandir karena kehilangan peluang mejeng
sekaligus korupsi kekuasaan.

Delapan Prinsip Kepemimpinan Mandela bukan ilmu gaib yang hanya
dapat dipelajari dari dukun, pusaka, atau arwah. Ilmu ini sering
diseminarkan, dibukukan, bahkan diterapkan di mana pun.

Tetapi, berhubung bersumber dari kepemimpinan seorang Mandela, ia jadi tidak biasa. Ia pemimpin yang larger than life.

Ia membangun karisma, partai, dan tujuan sejak muda. Secara
perlahan-lahan ia terbentuk sebagai pemimpin yang memiliki kredibilitas
karena berjuang penuh pengabdian, tanpa pamrih, dan rela berkorban.

Berbeda, misalnya, dengan Presiden Amerika Serikat George W Bush
yang sesumbar akan menyebarkan demokrasi di Timur Tengah. Wong dia
sendiri di negerinya enggak demokratis kok.

Nah, ”riwayat Mandela” sebenarnya dilakoni pula oleh para pendiri
republik ini. Mereka mungkin tidak sekelas Mandela, tetapi telah
membuktikan pengabdian beyond the call of duty.

Sering muncul pertanyaan dari para pembaca, mengapa pemimpin masa
kini tidak seandal pada masa perjuangan dulu? Simsalabim, saya punya
teori Trisula Kepemimpinan.

Prinsip pertama, pemberani karena nekat. Contohnya, pemimpin muda
yang minta yang tua menyingkir meski enggak berani mencalonkan diri
jadi presiden.

Prinsip kedua, tak berkelas gembala karena lebih doyan digembalakan
saja. Ada 34 partai peserta Pemilu 2009, tetapi yang berani mencalonkan
presiden baru segelintir.

Prinsip ketiga, saling bermusuhan kayak anak kecil. Kalau enggak percaya, tanya Pak Jusuf Kalla.

1 Agustus 2008

BLACK CAMPAIGN VS REKAM JEJAK

Oleh : Ario Djatmiko, pengajar di Fakultas Kedokteran Unair

Awal dari semua kejahatan di muka bumi ini adalah dusta. Begitu
kata Saidun, guru ngaji saya di kampung. Mengapa? Dalam berdusta, kita
sendirilah yang tahu, kita itu sedang berbohong atau tidak.

Siapa pun yang tega menipu diri sendiri pasti lebih tega
melakukannya pada orang lain. Saidun mengingatkan, munafik adalah
serendah-rendah nilai manusia di mata Tuhan. Munafik berarti tidak
satunya kata dan perbuatan. Cirinya, obral janji. Lantas, bagaimana
kita tahu munafik atau tidak?

Pemilu adalah peristiwa mahapenting dalam sejarah bangsa ini.
Proses memilih presiden yang membawa bangsa ini ke depan. Dalam proses
sepenting itu, di mana pers berada? Pers hadir sekadar menjual space
kosong untuk bebas diisi capres. Atau, ada tanggung jawab lain yang
lebih bermakna untuk bangsanya?

Pilar ke-4 yang menjaga demokrasi adalah pers. Untuk itu, kebebasan
pers harus dipertahankan. Ibarat pisau, pers bebas diarahkan ke mana
saja. Pertanyaannya, nurani atau sponsorkah yang bicara?

Ada Yang Harus Dijaga

Obama terpilih, kita menyaksikan indahnya dan terhormatnya
demokrasi. Bukan sekadar kisah menangnya kulit hitam atas kulit putih
atau muda versus tua. Lebih dari itu, menangnya nurani dan akal sehat.
Di sini terlihat peran pers amat jelas. Pers membawa perbedaan
fundamental tiap kandidat presiden ke ruang publik. Pertama, rakyat
Amerika akhirnya sadar untuk memilih jalan kapitalis yang sosialistik
ketimbang kapitalis bebas ala Reagan. Tentu dengan segala konkuensinya.

Kedua, rakyat memilih multilateralisme ketimbang unilateralisme.
Artinya, mereka menerima bahwa Amerika hanya merupakan salah satu
kekuatan penyeimbang dunia. Bukan lagi menjadi pengatur (baca: polisi)
dunia.

Ketiga, soft power lebih diterima ketimbang hard power. Air mata
bercucuran saat Obama berbicara I will listen to you, especially when
we disagree. Untuk orang-orang yang tidak memilih dia, Obama santun
berkata sungguh-sungguh bekerja untuk mereka. Dan, kemenangan Obama pun
menjadi kemenangan rakyat Amerika.

Lebih mengharukan, pidato politik McCain. Dia berjanji mengawal
kepresidenan Obama mencapai cita-cita Amerika. Kita melihat keagungan
di sini. Value yang mencerminkan keluhuran budi, sportivitas, dan
patriotisme tinggi. Mereka sadar, ada hal yang harus mereka jaga demi
masa depan bangsanya, yaitu kebersamaan! Tanpa kebersamaan, Amerika
akan hancur, apalagi dalam situasi ekonomi sulit ini.

Lantas, bagaimana mereka bisa mencapai itu semua? Jawabannya,
kematangan berbangsa dan kerja maksimal pers dalam melakukan
investigasi dan edukasi.

Benarkah para capres kita sadar betul akan pentingnya menjaga
kebersamaan? Benarkah maraknya iklan politik akan identik dengan
lahirnya pemimpin-pemimpin unggul yang bernurani, sportif, dan
patriotis? Apakah kita akan melihat keindahan dan terhormatnya
demokrasi saat pemilu hadir di negeri ini?

Kata-Kata Membunuh

Pada awal putaran kampanye tampak tanda-tanda mencemaskan. Tudingan
Rizal Ramli, dalam paparannya di TV, SBY melakukan rekayasa statistika.
Itu tuduhan berat, kebohongan publik! Pertanyaannya, apakah tudingan
tersebut merupakan rekam jejak atau hanya black campaign? Sebab,
ternyata Ramli pun mencalonkan presiden. Artinya, tudingan itu maybe
yes maybe no dan rakyat bingung.

Di sinilah pers seharusnya hadir membuka tabir? Komentar Amien Rais
tentang SBY-Kalla takut menghadapi asing. Menyetujui UU Migas adalah
ketololan yang menyundul plafond. Mungkin benar, tapi tidak adakah
kalimat yang lebih soft?

Saat McCain menyebut country first, ratingnya naik melebihi Obama.
Tudingan ''that one'' (baca: orang di luar kita) untuk Obama membuat
rating McCain melorot dan tidak pernah naik lagi.

Pelajarannya, black campaign bisa menjadi bumerang. Saat Sarah
Palin terkena masalah, Obama tegas mengatakan akan memecat tim
suksesnya yang melakukan black campaign. Terasa benar hadirnya
kesantunan politik di sini.

Masih ingat saat ulang tahun PDIP di Palembang? Mega mengkritik
langkah pemerintahan SBY-Kalla seperti poco-poco. Dengan nada menghina,
Anas Urbaningrum menasihati Mega untuk lebih sering becermin dan
membaca. Seandainya Anas itu tim sukses Obama, pasti sudah dipecat.

Tapi, negeri ini aneh, posisi Anas di partai justru makin penting
saja. Atau ada skenario lain, lempar batu sembunyi tangan? Kisah
seperti itulah yang muncul di ruang publik. Orang pintar tahu apa yang
dikatakan. Tapi, orang bijak tahu apa dampak dari ucapannya.

Nah, seharusnya para elite tahu cara mengolah delivery agar
substansinya bisa lebih diterima. Dan, bagaimana mungkin kita dapat
membangun kebersamaan kalau para elite terus mengumbar kata-kata
membunuh?

Pers Perjuangan

Jim Collins dalam bukunya Good to Great mengingatkan, ''First who
and then what''. Kalau diibaratkan membeli kucing dalam karung, iklan
politik adalah karungnya. Sekadar bungkus tempat menjual diri semata.
Seindah apa pun karung dihias, who-nya (baca: kucingnya) tetap tak
terungkap. Tidak ada gunanya kita berbicara ''what'' kalau tidak tahu
betul who-nya.

Lantas, di mana peran pers? Pers mempunyai dua wilayah, wilayah
iklan dan wilayah pemberitaan. Iklan adalah wilayah yang bisa dibeli
dan si pembeli dapat menulis apa pun sesuai tujuannya. Jelas tidak
mungkin kita mengungkap ''who'' dari wilayah iklan.

Di sini media harus memilih. Main aman dengan iklan politik dan
sibuk menghitung laba walau sadar ikut menyesatkan. Atau, tegak sebagai
intellectual gate keeper menjaga bangsanya. Tampil tegar menghadapi
risiko di wilayah pemberitaan. Membawa analisis tajam rekam jejak
capres ke ruang publik, membuka mata hati rakyat.

Beruntung saya pernah bertemu mediang Mochtar Lubis. Pers tidak
hanya urusan teknik pemberitaan semata. Makna publik adalah tujuan
utama pers. Landasan moral, etika, keberpihakan pada -kebenaran dan
kepentingan masyarakat- adalah nyawa pers.

Mochtar mengingatkan, pers Indonesia lahir karena perjuangan dan
sampai akhir tetap menjadi alat perjuangan. Jelas, perjuangan menuntut
sacrifice, bukan sekadar usaha mengejar laba.

Lantas, ke mana pisau pers akan diarahkan? Tegakah kita membiarkan
rakyat tak berdaya tersesat, memilih karung indah berisi serigala?

AAKHIR TAHUN 2008

Apa-apa yang dahulu adalah sebuah rencana akan datang sudah menjadi hari ini, saat ini.

Yang harus diingat lagi kita telah merajut rangkaian sebab di suatu
waktu yang kini kita menyebutnya masa lampau, masa lalu. Rangkaian
sebab itu sedang berinkubasi bahkan sudah ada yang menetas menjadi
sebuah akibat.

Sangat Fair ! rajutan sebab yang dirangkai adalah negatifitas maka
akibat yang menetas menjadi milik kita adalah negatifitas pula. Jika
suatu yang positif kita rangkai maka akibat yang akan menjadi milik
kita adalah positif.

Begitulah semua itu terjadi apa adanya, bukan untuk disorak sorai,
bukan untu kita soraki, atau kita ratapi, bukan untuk tertawa atau
menangis. Bukan untuk ditertawai atau ditangisi.

Sayangnya kita begitu bergiat bersemangat merajut dan menanam sebab,
tetapi menangis dan meratapi buah akibatnya sambil menyalahkan Tuhan
atau Orang lain !