Jumat, 31 Oktober 2008

Kuteruskan artikel ini sebagai bagian ungkapan ketertarikanku terhadap pesan moral yang dikandungnya...

SENYUMLAH...

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.

Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.

Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat
menerima 'kehadirannya' di tempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.

Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental,dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu).

Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka...

Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. . Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya,
yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak2ku!"

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA,
saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian
dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya.

"Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."


Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!
Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri...generasi perang pikiran...
Memaafkan itu indah.

Memaafkan itu melegakan dan membahagiakan. Dalam interaksi kita dengan orang lain
selalu saja ada hal-hal yang mungkin menimbulkan perselisihan. Hal itu
wajar dan normal karena setiap manusia senantiasa melihat segala
sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing.

Lantas apa yang akan terjadi kalau kita harus selalu membalas rasa sakit hati kita? Bukankah
saling membalas hanya akan membuat masalahnya menjadi lebih rumit lagi?
Bukankah yang akan tercipta adalah sebuah lingkaran setan?

Kalau begitu tugas kita sesungguhnya adalah memutuskan lingkaran tersebut
dengan tindakan memaafkan. Namun memaafkan sangat sulit dilakukan
semata-mata karena mitos bahwa memaafkan hanya menguntungkan orang
lain. Mitos ini salah dan harus diruntuhkan...generasi perang pikiran...
Setiap manusia tak akan luput dari berbuat salah. Namun apa yang Anda
lakukan dengan kesalahan jauh lebih penting. Kalau Anda hanya mengeluh
dan menyesali apa yang telah Anda lakukan, maka Anda telah rugi dua
kali. Kerugian pertama, adalah dari kesalahan Anda. Kerugian kedua
adalah pada perasaan negatif yang ditimbulkannya.

Namun, kalau Anda bisa menerima kesalahan dan mengambil pelajaran dari
sebuah kesalahan, maka kesalahan itu pada hakekatnya sudah berubah
menjadi sebuah pelajaran, menjadi kebaikan. Karena bukankah segala
sesuatu yang membuat Anda menjadi lebih baik sebenarnya adalah sebuah
kebaikan...? ??...generasi perang pikiran...
Dua nelayan asal Desa Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri, tewas disambar petir, Sabtu sekitar pukul 03.30 wib (1/11-2008).
Kedua nelayan itu adalah Abdurahman (33) dan Suhadi (30). Tubuh mereka seperti mengalami luka bakar.
"Mereka disambar petir saat berada di atas perahu," kata Wakil Kepala Polisi Sektor (Waka Polsek) Bintan Timur, Ipda Hendrayanto.
Sementara nelayan lain, Saidi (28), selamat meski satu perahu dengan Abdurahman dan Suhadi.
Namun Saidi mengalami depresi berat setelah melihat kedua rekannya tewas di hadapannya. Saat ini Saidi sudah berada di rumahnya.
"Mereka bertiga melaut sejak sehari sebelum peristiwa maut itu terjadi," katanya.
Berdasarkan keterangan warga, ketiga warga Desa Mantang itu berangkat dengan menggunakan perahu tradisional pada Jumat sore (31/10).
Saidi bersama kedua rekannya mencari ikan di sekitar perairan Mapur, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan.
Kemudian mereka memutuskan tidak melanjutkan mencari ikan karena cuaca buruk. Bersama nelayan Kabupaten Bintan lainnya, mereka merapat di tepi pantai Berkapur, Kecamatan Bintan Pesisir.
"Mereka berteduh karena hujan lebat yang disertai angin ribut," kata Hendrayanto.
Abdurahman dan Suhadi duduk berdekatan, sementara Saidi menyendiri meski mereka masih berada dalam satu perahu saat hujan lebat yang disertai petir.
Petir dengan suara kuat yang disertai kilat tiba-tiba menyambar Abdulrahman dan Suhadi. Mereka langsung jatuh dengan tubuh seperti terbakar.
Peristiwa itu mengejutkan para nelayan yang berteduh di tepi pantai Berkapur. Mereka berteriak histeris melihat rekannya tewas disambar petir...ANTARA...
Yesterday is a History...

Tommorow is a Mistery...

Today is a gift...

That's why we call it PRESENT...

Hidup adalah hari ini. Karena itu tak ada yang lebih penting
dibandingkan dengan hari ini. Hari ini adalah sesuatu yang nyata, yang
real...

Hari ini adalah hadiah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Kalau
kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan melewatkan satu moment-pun
dalam kehidupan kita. Kita akan benar-benar masuk dalam ke-kini-an dan
terserap ke dalam apapun yang sedang kita lakukan. Dengan demikian,
hidup akan terasa begitu indah.
Alkisah 3 (tiga) orang perempuan (orang Jawa, Menado dan Papua) naik
pesawat terbang dari Jayapura ke Jakarta.
Tiba-tiba ditengah perjalanan pesawat oleng dan rasanya mau jatuh.

Seketika perempuan Jawa tadi ambil bedak dan gincu berdandan cantik
sekali, temannya disebelah bingung dan
bertanya, "Kenapa koq dandan?"
Dia bilang, "Biasa kalau pesawat mau jatuh yang ditolong pertama kan yang
paling cantik."

Aehhh..perempuan Menado disebelahnya ga bisa terima, lalu dia angkat
roknya sampai tinggi.
Teman disebelahnya tanya, "Kenapa kau angkat rok sampai tinggi begitu?"

Dia jawab, "Biasa kalau pesawat jatuh yang pertama ditolong kan yang
pahanya putih-putih. "

Hehhh..perempuan Papua sudah emosi sekali mendengar ocehan kedua teman
disebelahnya.

Dia lalu membuka baju dan telanjang bulattt..... ...semuanya tampak hitam.

Kedua temannya kaget dan bertanya, "Kenapa telanjang bulat gitu?"

Dengan enteng dia jawab,
"Biasa kalau pesawat jatuh yang paling pertama dicari kan KOTAK HITAM."...generasi perang pikiran...
Ada tiga pertanyaan penting yang perlu Anda renungkan dalam hidup:

1. Kapan waktu terbaik untuk melakukan setiap hal..???

2. Siapa orang yang paling penting bagi Anda..???

3. Apa yang paling penting Anda lakukan..??

Anda Ingin tahu jawabannya.. ??..

1. Waktu yang terbaik adalah sekarang...

2. Orang yang paling penting, adalah orang yang saat ini berada bersama Anda...

3. Hal yang paling penting untuk dilakukan adalah membuat orang yang berada disamping Anda berbahagia.. .

So.. Make it happen's...